RSS

cerpen

09 Mei

BALADA SEPATU

Oleh Menar Rizie GH

Aku seorang sepatu. Yang di beli oleh wanita waktu aku baru lahir dulu. Setiap sepatu dilahirkan sepasang,  kiri dan  kanan. Bagai sisi dua mata uang, kami tak dapat dipisahkan. Bila  salah satu dari kami rusak, yang lain akan menyusul. Bila yang satu hilang, yang lain mungkin dibuang.

Ketika sampai di rumah baru, aku punya banyak kawan, Sang Meja lampu, Pak Rak buku. dengan sigap aku berkenalan. “Hei, namaku Sepatu!”

Yang aku heran, mereka sangat bersahabat. Bercerita tentang kesenangannya menghuni rumah. Apalagi pak Rak buku, dia bangga menjadi tempat berteduhnya ilmu. Banyak buku tinggal di sana, banyak ilmu yang dia tahu. Ada buku metafisika, atau ada juga tentang reaksi kimia. Dia menceritakannya satu persatu, memperkenalkan buku-buku itu padaku. Aku senang, kini aku punya banyak teman.

Lainnya dengan pak Rak buku, sang Meja lampu berwajah sendu. Ketika kutanyakan mengapa, dia bilang tidak tahu. Lalu pak Rak buku menjelaskan padaku, bahwa sang Meja lampu sedang rindu.

Rupanya Sang Meja lampu, jatuh cinta pada Lampu terawang. Tapi sang Meja lampu tak mau mengaku. Mungkin karena Lampu terawang begitu angkuh. Lehernya tinggi menjulang, tak mungkin menunduk melihat meja lampu. Kepalanya yang bercahaya membuat Lampu terawang terang, bagai bintang, gemilang. Itu sebabnya Sang Meja lampu tak mau mengaku, tapi Pak Rak buku tetap tahu, karena dia punya banyak ilmu. Dari ilmu fisika sampai kimia saja bisa, kalau ilmu tentang jatuh cinta, pasti biasa saja. Aku tersenyum geli mendengarnya, cuma dalam hati saja. Karena kalau aku tertawa, pasti sang Meja lampu akan menderita. Lalu aku menengadah ke atas, Lampu terawang begitu gemilang. Anggun. Pantas saja sang meja lampu tak mau mengaku. Mungkin karena malu.

Satu hari berlalu, aku tak merasa jenuh, karena aku punya banyak teman baru. Aku tertawa, aku gembira, aku bahagia. Aku merasa beruntung, tak seperti Sang Meja lampu. Karena aku selalu berdua, aku tak bisa dipisah. Sini aku beri tahu. Bagai manusia, aku juga punya belahan jiwa. Dia selalu ada, kami selalu berdua. Dialah sepatu kiri, sepatu putih yang menjadi pujaan hati.

Kata Rak buku, aku punya majikan, seorang manusia. Anak muda. Yang aku heran,  majikan tak pernah terlihat. Lagipula yang membeliku bukan anak muda, dia wanita tua. Lalu siapa yang akan ku panggil tuan? Anak muda atau wanita tua?

Ah ya sudahlah.

Saat malam tiba, saatnya aku melepas lelah. Melepas tawa yang dibuat kawanku bersama. Ya jelas, aku memang bahagia.

Tapi baru aku menutup mata, sepatu kiri sudah tak ada. Ku longok kebawah ku kira jatuh, tapi tak kudengar sepatu kiri berteriak mengaduh.

Aku adukan pada Rak buku juga Meja lampu. Mereka bilang tidak tahu.

Aku gelisah, aku kecewa. Mungkin gara-gara tadi terlalu banyak tertawa. Aku jadi ingat pesan mama. Kata Mama jangan terlalu banyak tawa, nanti bisa hilang arah.

Kini aku kehilangan belahan jiwa.

Esok paginya kuberanikan diri bertanya Lampu terawang. Meskipun angkuh, aku tahu dia kan iba. Tak kusangka, dia tak menjelaskan apa-apa. Hanya berkata, kau akan tahu jika tiba saatnya. Aku merasa tak berguna, bagiku hidup sia-sia saja. Sudah kubilang, aku bagai dua sisi mata uang. Selalu berasamaan, selalu bersisian. Tak dapat dipisahkan.

Bila aku sendiri? Ya jelas sudah aku jadi tak berguna. Bagaimana aku bisa mempertanggung jawabkan pada majikan?

Lebih baik mati saja.

Aku tak berguna hidup di dunia, sudah kupikirkan aku seharusnya memang tak pernah lahir di muka bumi ini. Aku sudah mencoba berbagai cara untuk berguna, tapi semuanya sia-sia. Sejak aku ada, aku sangat berharga tapi sekarang, malah tak berguna. Sekarang saatnya aku mencoba hal yang kupikirkan detik-detik ini, ya aku lebih baik mati.

Sebelum mati, setidaknya aku mau perkenalan diri. Walau hidup tidak berguna, aku tak mau mati sia-sia. Aku mau mati yang indah, yang diingat seluruh dunia. Aku punya nama, jadi aku mau yang lain tau dan mengenalnya.

Namaku Sepatu baru.

Sebenarnya sampai sekarang aku masih baru, karena majikanku belum pernah memakaiku. Aku sepatu mahal, sengaja dibuat oleh tangan-tangan handal.  Tangan itu menjahitku perlahan, dengan benang kuat ia mengikat erat supaya jahitanku tak lepas. Tak ada sisa benang kasar menempel disisian alasku. Tangan handal yang menjahitku, melabeli aku dengan warna abu-abu, warna kesukaanku. Aku tercipta sempurna, seperti sepatu mahal yang ditukar dengan banyak uang. Sesekali pernah aku dipamerkan di televisi, di pajang agar ada orang yang beli. Lalu wanita setengah  baya itu membeli, menukar setumpuk uang lembaran dengan kardus yang berisi aku. Ia menentengku kantung plastik berwarna putih biru, berjalan keluar dari area toko itu, melenggangkan pinggulnya yang tak lagi semuda 20 tahun lalu. Wanita berambut keriting berwarna kelabu telah membeliku.

Kini aku berdiri di lantai tertinggi bangunan ini, mencoba untuk terjun bunuh diri. Tapi aku tak bisa mati, aku malah terpelanting tinggi. Aku baru ingat, aku sepatu mahal, makanya aku dibuat untuk kebal. Walau aku jatuh dari gedung tinggi aku tak akan mati.

Kucoba untuk mati yang lain, aku kini memutilasi  diri, tidak dengan pisau belati. Tapi lagi-lagi, aku tak bisa mati. Aku sepatu mahal, pasti manusia yang membuatku sungguh handal. Entah dari dari kulit sapi, atau getah kayu jati, yang pasti aku tak bisa memotong diri.

Kali ini aku mau mati yang indah, meminum racun serangga. Seperti gaya matinya artis ibukota saja. Dua botol sudah kutuangkan, tapi aku tak mati-mati juga, lalu aku ingat, aku sepatu mahal. Cuma racun serangga saja mungkin hanya membuat noda, tak sampai meracuni hatiku. Duh sungguh tak berharganya diriku, sampai mati saja aku tak mampu.

Mungkin Tuhan yang tak inginkanku mati.

Tapi aku harus mati, karena untuk apa aku hidup?

Bukan tak mau menghargai hidup, tapi aku tak bisa. Aku harus berdua. Karena bila sendiri aku tak bisa. Sudah kubilang aku diciptakan berdua, selalu bersama, sepasang, sejiwa. Kini sepatu kiri menghilang, tanpa alasan, tanpa sebuah kata salam.

Aku putus asa.

Untuk kesekian hari aku mencari belahan hati, tak bisa kutemukan juga. Lalu untuk ke sekian hari berganti siang, sang tuan datang, aku tercengang. Bercampur baur rasa hatiku, senang bertemu majikan baru. Tapi aku tercengang bukan karena senang. Yang membuatku terharu, ternyata majikanku cuma berkaki satu. Ia berjalan, dengan tiang besi sebagai penyangga. Tertatih langkahnya menahan badannya. Wajahnya terlihat letih, seolah ia berjalan kaki selama 3 hari. Tapi raut muka nya bahagia tak terkira.

Sesaat aku terdiam termanggu, Rak buku menegurku. Ternyata dia tahu tentang sejarah majikanku. Katanya dulu majikanku pemain bola. Pujaan wanita, andalan negara. Lalu sesuatu terjadi padanya. Ketika ia sedang berlatih, tiba-tiba dia tak sadarkan diri. Tak jelas dan tak tahu pasti, dia pergi dengan matisuri. Ternyata eh  ternyata, dia sudah sekian lama menderita. Kakinya sudah tak bisa digerakkan lagi, lebih parah mesti diamputasi. Padahal sebentar lagi kompetisi. Kata dokter yang memeriksa, ada kanker di tulangnya. Bisa sangat berbahaya bila tak dipenggal kakinya. Sang majikan tahu nyawa taruhannya. Tapi sebagai bintang bola, kaki adalah masa depannya.

Entah berapa cara yang dia gunakan untuk meneguhkan hati, yang pasti akhirnya kaki diamputasi. Itulah sedikit sejarah majikanku. Yang tak pernah kupedulikan sampai detik ini.

sampai akhirnya aku tahu, Tuhan memang yang Maha Tahu.

Tuhan mengirimku, untuk membantu. Menolong kakinya yang cuma satu.

Kini aku tahu mengapa sepatu kiri pergi. Bukan Tuhan benci, tapi justru ia Maha Pengasih. Ia ingin aku menemani, sang majikan yang berbesar diri. Walaupun sang Tuan pernah hampir mati, atau setidaknya pernah ingin mati, ia tetap mempersiapkan diri untuk hidup hari ini, bukan untuk mati.

Aku sungguh malu, ingin mati hanya karena sendu. Aku kini tahu, selalu ada alasan untuk hidup, walau sendiri, tanpa sepatu kiri, tanpa kaki kiri, tanpa belahan hati. Oh…inikah cinta tak harus memiliki?

Kini aku bersenang hati, karena aku bangga jadi alas kaki seorang tuanku yang berkaki satu. Aku tahu, suatu saat akan mati, tapi setidaknya aku mati dengan bangga, mati dengan bahagia, mati karena berguna.*

Menar Rizie GH, tinggal di Tangerang

Iklan
 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 9 Mei 2011 in Cerpen Indonesia

 

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: