RSS

cerpen

09 Mei

BIOLA ARJUNA

Oleh Ahmad Ijazi H

Alunan Melodi terdengar merdu menari-nari di selaput kerinduan maha agung yang menggelora. Menaburkan kelopak-kelopak nada yang saling bercumbu dalam getar dawai yang dikecup oleh  gesekan jemari lentik seorang Arjuna. Ada pesona yang selalu menyulam senyum di antara gelombang cinta dan desahan hasrat yang saling berkejaran dalam taman bawah sadar, saat alunan melodi itu terus menghembuskan nada-nada indah yang senantiasa mewangi abadi menghiasi sayap-sayap mimpi…

***

Betapa gemar Arjuna memainkan biola. Baginya alat musik yang dimainkan dengan cara digesek itu memiliki daya tarik tersendiri dibanding alat musik yang lainnya. Setiap petang menjelang, Arjuna tak pernah lupa melatih biolanya itu. Sepertinya biola itu sudah menjadi bagian dari hidupnya.

Tapi Arjuna merasa cara memainkan biolanya masih belum sebagus ayah. Arjuna selalu dibuat terkesima dan terkagum-kagum saat melihat ayah memainkan biola. Alunan musik yang keluar dari biola yang digesek ayah terdengar begitu halus dan merdu.

Di samping itu, ada hal unik pada diri ayah yang membuatnya berbeda dari pemain biola kebanyakan. Ayah menggesek biolanya dengan tangan kidal! Sungguh mengagumkan! Biasanya orang selalu menggunakan tangan kanannya saat menggesek biola. Tapi ayah menggunakan tangan kirinya!

Arjuna sangat penasaran dengan kemampuan ayahnya itu. Dia merasa ayah menyimpan sebuah rahasia. Kalau tidak, bagaimana mungkin Arjuna tak mampu memainkan biolanya sebagus ayah. Sementara yang mengajarinya setiap hari adalah ayahnya sendiri.

“Jika suatu saat nanti kau bisa menggesek biola itu dengan tangan kidalmu, mungkin kau akan mampu memainkannya sehebat Ayah, atau bahkan mungkin lebih hebat dari Ayah,” ujar ayah ketika suatu hari Arjuna menanyakan tentang rahasia ayah itu.

“Benar begitu, Yah?” tanya Arjuna dengan mata berbinar-binar.

Ayah hanya tersenyum. Tampaknya dia tidak serius dengan perkataan yang baru diucapkannya itu. Tapi sepertinya ayah juga tidak sedang bercanda. “Sebenarnya waktu muda dulu ayah juga menggesek biola dengan tangan kanan. Tapi akhirnya ayah memainkannya dengan tangan kidal––karena omamu yang waktu itu keras mengajari ayah, menggesek biolanya dengan tangan kidalnya. Ayah begitu penasaran saat oma memainkan biola, penuh penghayatan. Irama yang keluar dari gesekan-gesekan halusnya terdengar begitu halus dan merdu. Akhirnya sejak saat itu, ayah pun jadi ikut-ikutan oma menggesek biola dengan tangan kidal . Memang pada awalanya terasa sulit, tapi lama-lama ayah terbiasa juga. Dan ayah benar-benar sangat menikmatinya.”

Ayah kemudian bercerita bahwa dulu dia adalah anak kesayangan oma. Oma memiliki harapan besar pada ayah agar menjadi penerusnya. Karena dari keempat anak oma, yang memiliki bakat memainkan biola hanya ayah.

Namun sayang, saat  berusia 23 tahun, ayah melakukan sebuah kesalahan besar yang akhirnya membuat oma teramat membenci ayah. Waktu itu ayah berniat akan menikahi seorang wanita yang sangat dicintainya. Tapi oma menentang keras. Karena setelah ditelusuri, ternyata wanita pilihan ayah itu adalah anak dari mantan suami oma yang tega meninggalkan oma saat tengah mengandung ayah. Suami oma itu berselingkuh dengan wanita lain. Hingga perselingkuhan itu melahirkan seorang anak perempuan yang akhirnya dipilih ayah sebagai calon istrinya itu.

Namun ayah tetap bersikeras untuk menikah dengan wanita pilihannya itu. Ayah ingin menjadi laki-laki yang bertanggung jawab. Ayah tak mungkin meninggalkan kekasinya itu, karena dia telah terlanjur mengandung janin dari ayah.

Sejak itu oma tak mau lagi mengakui ayah sebagai anak. Berulang kali ayah mendatangi oma, meminta maaf, namun oma tak sudi mengulurkan tangannya untuk menerima permohonan maaf ayah. Sampai akhirnya oma tutup usia, namun maaf dari oma belum juga ayah terima.

Rasa bersalah itu terus menghantui ayah. Namun ayah sangat mencintai istrinya. Apapun yang terjadi, ayah tetap mencintainya. Bahkan kebahagian itu semakin bersemi, terlebih saat-saat menantikan bayi tampan dari buah cinta mereka akan segera lahir. Namun cobaan berat lagi-lagi harus ayah terima untuk kedua kalinya. Istri yang teramat ayah cintai itu meninggal dunia saat melahirkan Arjuna. Betapa berkabung dan berdukanya ayah kala itu. Namun ayah sadar, semua itu kehendak Tuhan. Berarti itulah yang terbaik.

“Arjuna, kau adalah satu-satunya putra Ayah yang memiliki bakat memainkan biola. Dulu, saat ibumu masih hidup, dia sangat berharap bisa melihatmu kelak mampu memainkan biola seperti Ayah. Ayah ingin kau terus berlatih tanpa kenal lelah. Ayah yakin, jika suatu saat nanti ayah telah tiada, kau bisa jadi penerus Ayah dan bisa pula menurunkannya ke anak cucumu kelak…” Ayah berkata lirih. Matanya tampak berkaca-kaca.

“Ayah jangan berkata seperti itu.” Arjuna tak kuasa membendung air matanya.

“Ayah berharap kau mau belajar sungguh-sungguh.” Ayah menatap wajah Arjuna lekat.

Arjuna mengangguk tanpa ada keraguan sedikit pun.

“Walau sampai detik ini kesalahan besar yang telah ayah lakukan di masa silam belum termaafkan, setidaknya oma dan ibumu bisa tersenyum bahagia melihatmu memainkan biola dengan segenap kesungguhan hatimu…” Krista-kristal di mata ayah kian berguguran.

“Baik, Ayah. Aku berjanji akan selalu memainkan biola dengan segenap kesungguhan hatiku! Sampai kapan pun!” Arjuna tersedu. Segera dilabuhkannya tubuhnya itu dalam pelukan ayah yang hangat.

“Terima kasih, Arjuna. Oma dan ibumu pasti sangat bangga padamu,” bisik ayah penuh keharuan.

***

Suasana pagi yang teduh menghembuskan angin semilir. Perbukitan hijau yang dipadu suara gemericik air sungai yang mengalir di sekitarnya menghadirkan kesejukan mendalam di benak Arjuna. Di tempat yang tenang itu, Arjuna merasa lebih leluasa memainkan biolanya dengan penuh penghayatan tanpa seorang pun dapat mengganggunya.

Arjuna memejamkan matanya menghimpun konsentrasi. Dengan gerakan perlahan, Arjuna mulai menggesek biolanya. Seketika, alunan melodi yang terdengar merdu membahana merayapi puncak bukit. Arjuna terus memainkan biolanya dengan nada yang mulai meliuk-liuk. Semakin lama, semakin lembut dan merdu melodi yang terdengar.

Setelah Arjuna merasa cukup puas, dia segera menghentikan gesekan biolanya. Tapi aneh, irama dari biola itu terus saja mengalun! Tak mau berhenti! Hah?! Arjuna terperangah. Apalagi saat mendengar alunan biola itu terdengar semakin lembut dan merdu menusuk-nusuk jantungnya.

Tiba-tiba bulu kuduk Arjuna meremang. Arjuna sungguh sangat mengenali alunan musik biola itu, sama persis dengan yang biasa ayah mainkan! Apa mungkin ayah ada di sini? Arjuna bertanya dalam hati.

Segera dia membuka matanya. Dipendarkannya pandangannya ke sekeliling. Namun ajaibnya, hamparan perbukitan yang penuh dengan rimbunnya pepohonan dan sungai yang mengalir telah lenyap. Kini yang ada hanya hamparan bunga-bunga mawar yang menebarkan aroma wangi semerbak.

Di mana aku? Arjuna linglung. Kembali dipendarkannya penglihatannya untuk lebih mengenali tempat baru yang terasa begitu asing itu. Sampai akhirnya Arjuna memusatkan tatapannya pada sebatang pohon cemara yang rindang. Di bawah pohon itu tampak seorang wanita mengenakan gaun berwarna hijau muda. Wanita itu terlihat sangat khusuk memainkan biolanya. Siapa dia?

Perlahan Arjuna melangkah menghampiri wanita itu. Dari jarak yang semakin dekat, Arjuna dapat melihat dengan jelas wanita itu menggesek biolanya dengan tangan kanannya. Tidak seperti ayah yang menggunakan tangan kidalnya. Tapi alunan musik yang terdengar sama merdunya seperti yang ayah mainkan. Arjuna semakin terkagum-kagum. Matanya tak berkedip menatap wajah wanita itu. Ternyata selain piawai memainkan biola, wanita itu juga memiliki paras yang memesona.

Beberapa saat kemudian, wanita itu pun mendendangkan sebuah lagu Melayu.

Dang Merdu bunda berjase

Melahirkan putra perkase

Hang Tuah laksamana satrie

Teladan negeri dan bangse….

Arjuna makin terperangah mendengar lagu yang dinyanyikan wanita itu. Suaranya begitu merdu mendayu-dayu. Hampir saja Arjuna tak mampu bernapas lagi lantaran saking terkesimanya. Wanita itu benar-benar telah menghipnotisnya!

Arjuna melangkah makin mendekati wanita itu. Dia harus berkenalan dengan wanita itu. Siapa tahu wanita itu mau mengajarinya memainkan biola. Namun tiba-tiba, wanita itu menghilang dari pandangan Arjuna! Juga pohon cemara, dan mawar-mawar yang tadi terhampar luas, telah lenyap entah ke mana.

“Hei, Arjuna! Kau melamun?” Tiba-tiba terdengar suara seorang gadis mengagetkan Arjuna. Arjuna menoleh menatap gadis itu. Ternyata Dewi, gadis yang telah dua tahun ini menjadi kekasihnya.

Arjuna menatap ke sekeliling. Ada meja-meja dan kursi-kursi yang tersusun rapi. Sebuah papan tulis tergantung di dinding depan, juga foto presiden dan wakil presiden yang terbingai rapi di atasnya. Ruang kelas? Astaga… ternyata tadi aku hanya berkhayal? Arjuna membatin kesal.

“Kamu ini, pagi-pagi sudah melamun,” ucap Dewi lagi seraya duduk di samping Arjuna. “Lagi melamunkan apa sih?”

Arjuna hanya tersenyum samar, tak menjawab apa-apa.

***

Arjuna terus terpikir akan khayalannya tadi di sekolah. Khayalan itu seolah nyata. Wanita cantik bergaun hijau muda itu sangat mengagumkan. Begitu piawai memainkan biola. Arjuna sungguh menyesal tak sempat berkenalan dengannya. Siapa sebenarnya wanita itu? Ah, Arjuna sungguh penasaran. Segera dijumpainya ayah. Siapa tahu ayah mengenal wanita itu.

“Ayah, tadi di sekolah aku berkhayal bertemu dengan seorang wanita cantik,” cerita Arjuna pada ayah yang waktu itu sedang membersihkan biola kesayangannya di teras belakang.

“Oya? Siapa dia?” tanya ayah menoleh Arjuna sesaat. Senyumnya mengembang.

“Aku belum sempat berkenalan dengan wanita itu. Tapi dia sangat piawai memainkan biola. Bahkan permainan biolanya sama hebatnya dengan ayah!” Mata Arjuna tampak berbinar-binar.

Ayah terdiam. Padangannya lurus ke depan seperti sedang menerawang sesuatu.

Arjuna lekat mengamati wajah ayah. “Ayah sedang memikirkan apa?”

“Di mana kau bertemu dengan wanita itu?” ayah balik bertanya.

“Di sebuah taman dengan hamparan bunga mawar yang sangat luas. Taman itu benar-benar indah. Belum pernah aku melihat taman seindah itu sebelumnya.” Arjuna tersenyum lagi.

Ayah terdiam. Matanya yang teduh menerawang jauh.

“Wanita itu memainkan biolanya di bawah pohon cemara yang rindang. Dia mengenakan gaun berwarna hijau muda.” Arjuna terus menceritakan khayalannya itu. “Apa Ayah tahu siapa wanita itu?”

Ayah tetap diam. Namun kemudian, terdengar ayah mendesah berat. “Hhh… entahlah.”

“Wanita itu juga sempat mendendangkan sebuah lagu Melayu. Lagu itu begitu merdu mendayu-dayu.”

“Hmm, bagaimana lirik lagunya?” Ayah mulai tertarik.

“Wah, aku lupa, Yah.” Arjuna menggaruk-garuk kepalanya.

Ayah segera mengangkat biolanya di bahu kanannya. Digeseknya biola itu dengan tangan kidalnya perlahan. Alunan musik yang meliuk-liuk pun terdengar merdu. Ayah memejamkan matanya, terus menggesek biolanya dengan penuh penghayatan. Tiba-tiba ayah mendendangkan sebuah lagu.

Dang Merdu bunda berjase

Melahirkan putra perkase

Hang Tuah laksamana satrie

Teladan negeri dan bangse…

Arjuna tercekat sangat. Lagu Melayu yang ayah dendangkan itu sama persis dengan lagu yang dinyanyikan wanita dalam khayalannya itu! Hah, bagaimana mungkin? Siapa sebenarnya wanita itu? Apa mungkin ayah benar-benar mengenal wanita itu?

“Ayah, lagu yang ayah dendangkan itu sama persis dengan yang dinyanyikan wanita dalam khayalanku itu! Siapa sebanarnya wanita itu, Yah?” Arjuna semakin penasaran.

“Dulu sewaktu ayah kecil, omamu suka sekali menyanyikan lagu itu untuk menina-bobokan Ayah saat akan tidur pada malam hari.” Ayah tersenyum mengingat masa kecilnya yang bahagia.

“Berarti wanita dalam khayalanku itu oma?” mata Arjuna membulat.

“Bisa jadi,” sahut Ayah pelan. “Tapi, apakah wanita itu menggesek biolanya dengan tangan kidalnya?”

Arjuna berpikir sejenak, mengingat-ngingat. “Wanita itu… ah, dia menggesek biolanya dengan tangan kanannya! Ya, dia menggesek biolanya dengan tangan kanannya!”

Ayah terdiam. Wajahnya yang tadi tampak berbinar-binar berubah pucat. “Berarti wanita itu bukan oma. Oma selalu menggesek biolanya dengan tangan kidalnya.”

“Lalu siapa wanita itu?”

Ayah tak menyahut. Raut wajahnya terliat kian pucat. “Uhuk… uhuk…!” Ayah batuk-batuk sambil menutup mulutnya dengan kedua telapak tangannya.

Arjuna terbelalak. Telapak tangan ayah berdarah?!

***

Arjuna masih bersimpuh di depan kuburan ayah yang masih basah itu. Sudah hampir empat jam, namun Arjuna tak kunjung beranjak dari tempat itu. Tak ada pelayat lagi yang tersisa selain dirinya dan Dewi, sang kekasih yang sangat mencintai Arjuna itu. Air mata Arjuna terus berguguran. Betapa Arjuna sangat terpukul dan kehilangan. Ayah yang teramat dia cintai telah pergi untuk selamanya.

“Kenapa ayah begitu cepat meninggalkanku?” Suara Arjuna begitu lirih.

“Kau harus merelakannya, Arjuna. Biarkan dia tenang di peraduannya yang baru.” Dewi berbisik lembut.

“Tak ada lagi yang akan mengajariku memainkan biola. Padahal aku belum bisa memainkannya sehebat ayah.”

“Walau dia telah pergi, dia pasti selalu ada di hatimu. Kau jangan patah semangat. Teruslah berlatih dengan segenap kesungguhan hatimu. Pasti ayahmu akan sangat bahagia.”

“Aku tak pernah mampu membahagiakan ayah. Ayah berharap aku bisa memainkan biola sepertinya. Tapi aku tak pernah bisa. Aku memang bodoh!”

“Kau tak boleh berkata seperti itu!”

Arjuna diam. Hening menyergap.

“Arjuna, ayo kita pulang…” Dewi masih setia menunggu kekasihnya itu.

“Biarkan aku di sini.”

“Sampai kapan? Matahari sudah hampir tenggelam.”

“Kalau kau ingin pulang, pulang saja. Aku masih ingin bersama ayah…” suara Arjuna semakin lirih.

Angin senja mulai bertiup. Awan-awan tampak bermega kemerahan menyelimuti matahari yang hendak bersemayam kembali ke peraduannya. Arjuna tak hirau. Dia masih bersimpuh di depan kuburan ayah. Entah sampai kapan.

Tiba-tiba angin senja semakin kencang bertiup. Sayup-sayup, Arjuna mendengar alunan biola yang digesek perlahan. Makin lama, alunan biola itu makin terdengar jelas di telinga Arjuna. Arjuna memejamkan matanya menikmati irama yang mulai meliuk-liuk itu. Arjuna terperangah. Dia sungguh tak asing dengan melodi itu. Ayah selalu memainkannya untuknya. Apa mungkin ayah ada di sini? Ah, tak mungkin! Bukankah ayah telah pergi?

Arjuna membuka matanya. Segera dipendarkannya pandangannya mencari sumber suara biola itu. Di kejauhan, tampak seorang wanita tengah khusuk menggesek biola dengan tangan kanannya. Arjuna melangkah mendekati wanita itu. Dari jarak yang semakin dekat, Arjuna seperti mengenal wanita itu. Ah, tidak! Arjuna benar-benar mengenal wanita itu!

“Dewi?!” Arjuna sungguh tak percaya, wanita yang tengah memainkan biola itu adalah Dewi, kekasihnya! Apa mungkin ini hanya halusinasinya saja? Digosoknya berkali-kali matanya untuk memastikan. Namun wanita itu tak berubah. Wanita itu benar-benar Dewi!

“Dewi? Kau… kau bisa memainkan biola? Hah, bagaimana mungkin? Dan bahkan, kau mampu memainkannya sehebat ayah?” Arjuna mengeleng-gelengkan kepalanya. Dia masih tak percaya. Dia seperti bermimpi.

“Kau telah melihat sendiri, aku mampu memainkan biola sehebat ayahmu. Kau tak percaya?” Dewi menatap wajah Arjuna tajam.

“Siapa yang mengajarimu memainkan biola?” Arjuna makin penasaran.

Dewi terdiam beberapa saat lamanya. Tatapannya kian tajam menembus bola mata Arjuna. “Oma…”

“Oma?! Oma siapa?”

Dewi tak menjawab. Segera dia melangkah menjauhi Arjuna. Dengan gesekan perlahan, kembali dimainkannya biola di tangannya. Alunan musik yang lembut dan merdu pun membahana memenuhi alam senja. Makin lama, alunan musik itu kian meliuk-liuk. Dewi pun kemudian mendendangkan sebuah lagu.

Dang Merdu bunda berjase

Melahirkan putra perkase

Hang Tuah laksamana satrie

Teladan negeri dan bangse…

Arjuna makin terkesima. Lagu Melayu yang didendangkan Dewi itu sama persis dengan lagu yang pernah dinyanyikan ayah, juga wanita yang pernah hadir dalam khayalannya! Lagu itu begitu syahdu mendayu-dayu menusuk-nusuk jantung. Arjuna terharu, juga bahagia. Akankan ayah benar-benar selalu berada di hatinya dan memainkan biola untuknya?

“Dewiiii…!” Arjuna berteriak.

Tiba-tiba aroma mawar pun merebak menusuk penciuman Arjuna. Makin lama aroma mawar itu kian pekat menghembuskan wanginya ke segala penjuru. Saat angin bertiup kencang, kelopak-kelopak mawar pun beterbangan serupa hujan salju, seolah-olah hendak mencumbui alam senja di taman-taman penuh cinta dan kerinduan…

*

Ahmad Ijazi H, Mahasiswa UIN Sultan Syarif Kasim Pekanbaru Riau

Iklan
 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 9 Mei 2011 in Cerpen Indonesia

 

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: