RSS

cerpen-

09 Mei

Mencari Wajah Ibu

Oleh Angel Li

Berjalan di bawah terik matahari sudah menjadi hal biasa bagi Tono. Setiap hari menghirup udara Jakarta yang selalu bercampur debu tebal dan asap knalpot adalah satu dari ciri kemiskinan hidupnya. Tono adalah seorang peminta-minta di sudut sebuah jalan di ibukota ini. Bersama beberapa orang yang lain dari berbagai tingkat umur, mereka menghabiskan sepanjang hari di sana, di dekat lampu merah. Terkadang mereka berteduh di bawah pohon atau sekadar duduk di samping trotoar. Tapi tetap saja, lampu merah terlalu penting untuk ditinggalkan jauh-jauh, karena benda itu selalu memberikan tanda kapan mereka harus beraksi atau pergi. Merah artinya jalan dan hijau artinya mundur.

Belakangan ini, bocah itu sering meneliti wajah-wajah yang lewat di hadapannya. Orang-orang yang berjalan kaki melewatinya atau pun yang duduk di dalam mobil-mobil yang ia ketuk kaca jendelanya. Tono sedang mencari ibunya, wanita yang melahirkannya. Entah ada di mana ia sekarang. Tono berharap bisa mengenalinya di antara wajah-wajah wanita yang ditemuinya setiap hari. Harapannya, suatu hari nanti ia akan bisa menemukannya. Mungkin… Bila ia berusaha keras.

Menurut cerita orang-orang di tempat tinggalnya, Tono dibuang saat masih bayi, sembilan tahun yang lalu. Tak ada yang pernah melihat wajah ibunya. Tak ada yang tahu. Mbah Upik yang membesarkannya dan Mang Asep yang menanggung seluruh biaya hidupnya selama ini. Kalau bisa dikatakan seperti itu. Soalnya sejak bayi hingga sekarang Tono telah ikut Mbah Upik mengemis di mana-mana.

Sejak pikiran tentang ibu mengganggunya, dia terus berusaha mencari informasi dari orang-orang sekitarnya tentang wanita itu. Namun tak banyak yang bisa dikoreknya. Pernah ia memberanikan diri bertanya pada Mang Asep. Lelaki itu menatapnya dengan alis yang tertaut sedemikian rupa, yang menambah kesangaran wajahnya.

“Ibumu sudah mati!” katanya dengan suara menggelegar seraya berlalu meninggalkan Tono.

Semalamam Tono menangis dan kata-kata Mang Asep terus terngiang-ngiang di kepalanya. Esok paginya Tono bangun dengan mata sembab dan wajah pucat. Tak ada yang menanyakan mengapa. Tak ada yang prihatin dengan awan kesedihan di wajahnya. Mang Asep malah tampak puas ketika melihatnya. Karena semakin menyedihkan rupa Tono, semakin besar kesempatannya memperoleh penghasilan yang tinggi hari itu.

Suatu hari Tono duduk di samping Mbah Upik dan menanyakan hal yang sama dengan yang pernah dia tanyakan pada Mang Asep. Mbah Upik mengelus-elus kepala Tono dan berkata: “Nang, Nang… Nasibmu memang malang. Terima saja.” Ia memanggil Tono dengan panggilan ‘Nang’ – panggilan kesayangan untuk anak laki-laki Jawa.

Bukan itu jawaban yang diinginkannya. Karena itu akhirnya Tono bertekad mencari ibunya sendiri. Dia tak percaya bahwa ibunya sudah mati seperti kata Mang Asep. Tono yakin dia masih hidup, hanya entah di mana. Sebenarnya sempat terpikir oleh Tono untuk melapor ke pos polisi di seberang sana. Seperti yang sering dia lihat di siaran televisi yang biasa ditontonnya di warung di ujung lorong. Katanya polisi bisa membantu menemukan anak yang hilang. Tapi ini ibu yang hilang. Apakah mereka akan menolongnya mencari? Sayangnya, Tono tak tahu bagaimana ciri-ciri ibunya itu..

Tapi pencarian ibunya tak akan ia hentikan, meski tidak bisa mendapatkan bantuan siapa pun. Dia akan mencari sendiri. Toh, dia punya tangan, kaki, mata dan mulut. Dia yakin akan menemukan ibunya suatu hari nanti. Dia hanya harus lebih teliti memperhatikan orang-orang yang lewat setiap hari. Suatu hari nanti ibunya pasti akan lewat. Tono percaya akan hal itu.

Lampu merah menyala.
Sedan putih itu berhenti pelan. Tono mendekat.
“Bu…”

Tono mengetuk kaca jendela dan memandang ke arah wanita muda di dalam. Wanita itu menoleh, melihat Tono sekejap dan kemudian melambaikan tangannya. Tanda untuk pergi.

Tono mengetuk sekali lagi dan memasang wajah yang lebih memelas. Ini yang diajarkan Mang Asep, jangan cepat menyerah. Selalu minta sekali lagi, bila kau tidak dberi uang.

Mang Asep adalah pimpinan gerombolan mereka. Tono sendiri tidak tahu siapa sebenarnya laki-laki itu. Yang dia tahu hanyalah, setiap petang menjelang gelap, mereka semua pulang ke tempat yang mereka sebut rumah dan harus menyetorkan uang hasil mengemis sepanjang hari itu kepada Mang Asep. Rumahnya, sebenarnya hanya berupa kotak kayu yang berlubang dan penuh tambalan, yang berada di sebuah lorong sempit di belakangan kawasan pembuangan sampah. Dan setelah penyetoran selesai, Mang Asep akan memberikan makian atau pukulan untuk beberapa orang yang membuatnya tak puas dan kemudian diakhiri dengan ceramah singkat agar hasil yang mereka peroleh esok hari bisa lebih banyak.

*

Wanita bermata belo itu menoleh lagi, tampak sedikit jengkel. Namun kali ini tangannya bergerak ke bawah jendela. Dari lubang jendela yang terbuka sedikit, ia menjatuhkan sekeping uang logam. Tono menadahnya cepat dan mengucapkan terima kasih. Wanita itu tampaknya tak mendengarnya, karena secepat tangan Tono terulur, secepat itu pula kaca mobilnya tertutup kembali.

Sebelum menghampiri mobil belakang, Tono sempat memperhatikan wajah ibu itu sekali lagi. Harusnya dia bukan ibuku, pikir Tono. Kulit wanita itu kuning langsat, alisnya tebal dan matanya belo. Sementara Tono sendiri hampir tak beralis dan matanya tak sebesar mata wanita itu. Kulitnya? Jauh dari kuning langsat. Walau Tono sendiri tidak yakin apa warna kulitnya itu. Coklat kehitaman? Sepertinya. Tapi rasanya, mereka yang mengemis di sana, rata-rata memiliki warna kulit yang sama. Entah karena rusak terbakar matahari atau karena debu yang menempel setiap hari sudah melekat, tak bisa dicuci lagi. Tono bahkan sering tidak mandi.

Mandi adalah sebuah kemewahan di kawasan tempat tinggalnya. Butuh dua ribu perak untuk sekali mandi di WC umum. Kalau dua kali sehari berarti empat ribu perak. Kalau tiap hari dia mengurangi jatah setorannya hanya untuk mandi dua kali, Tono harus mau merelakan telapak tangan Mang Asep yang besar singgah di wajahnya. Rasanya pedas dan panas. Bahkan bisa membuatnya pusing selama berjam-jam. Tono lebih suka dengan bau menyengat tubuhnya daripada merasakan penderitaan itu.

Mobil berikutnya. Seorang wanita lebih berumur dari wanita yang tadi duduk di belakang setir. Wajahnya cantik, dandanannya tebal. Mobilnya bagus. Tono tidak tahu apa namanya. Merk-nya Toyota, tapi bentuknya seperti van hanya saja tampak lebih mewah.

Belum sempat ia mengetuk, kaca mobil telah turun. Harusnya dia kasihan melihat wajah sendu Tono. Atau tubuh ringkihnya.

Selembar uang lima ribuan disodorkannya pada Tono. Tak sadar Tono tersenyum lebar.
“Terima kasih, Bu!”
Ia mengangguk dan balas tersenyum. Wangi parfumnya lewat, singgah di hidung Tono.

Tono menatapnya lagi..”Ah, seandainya dia ibuku… Cantik, kaya, baik… Aku pasti sangat beruntung, bisa ke mana-mana naik mobil mewah. Lagi aku pasti sangat disayang dan dimanjakan olehnya.” Begitu pikir Tono.

Suara klakson bersahutan membuat Tono tersentak. Lampu hijau.
Mobil mewah itu perlahan melaju pergi, meninggalkan Tono yang masih tertegun di tepi jalan.
Sebuah tarikan di sikunya membuat Tono sedikit oleng ke belakang.
“Mau mati lo!” teriak Nuno di telinga Tono.
Tono tak sadar dengan kendaraan-kendaraan yang melaju di depannya.
Mata Nuno membelalak. “Wah, gila lo! Dapat duit lima ribuan! Masih pagi udah dapat banyak!”
Tono segera menyusupkan uang lima ribu tadi di saku celana rombengnya. Takut suara Nuno terdengar oleh yang lain. Bisa-bisa uangnya dirampas. Apalagi oleh Ibu Nuno, yang duduk mengemis di samping pohon itu.

Tono tak pernah suka pada Ibu Nuno, walau kadang dia tak mampu menahan iri melihat Nuno memiliki ibu kandung. Ibu Nuno itu adalah seorang wanita bertubuh gemuk dengan rambut awut-awutan dan mulut yang senantiasa mencibir. Matanya selalu menatap siapa saja dengan tatapan mencela dan tak suka. Dia punya kebiasaan meludah setiap beberapa menit. Dan Nuno, sahabatnya itu, sering menjadi bulan-bulanan makian kasarnya. Tono tak bisa membayangkan seandainya dia punya ibu seperti itu.

“Nanti aku traktir jajan ya, No,” kata Tono yang disambut Nuno dengan cengiran lebar dan jingkrakan sebelum ia berlalu pergi.
Ketika Tono mundur, dia menabrak seseorang.
“Hati-hati, Dik…”

Tono mengangkat wajah pada suara lembut itu. Dia terpana. Wajah seorang wanita muda yang terlihat begitu sabar dan lembut. Wanita itu tersenyum padanya dan tetap berdiri di tempatnya seraya memperhatikan lalu lalang kendaraan di depannya. Tampaknya dia akan menyeberang.

Tono masih menatapnya, tak mampu berkata apa-apa.
Dia menoleh, melihat Tono lagi. Kali ini dia merogoh tasnya dan menyodorkan selembar ribuan pada bocah itu. Mengira Tono tengah menunggu pemberiannya.

Tono bahkan tak mampu berkata-kata. Pesona wanita muda itu membuatnya lumpuh.
Tapi wanita itu tak mempedulikan Tono lagi.
Tono menguatkan diri. Kalau tidak sekarang, mungkin tak ada kesempatan lain lagi.
“Bu…”
Wanita itu menoleh dengan alis naik sedikit.
“Ngg… Boleh saya bertanya?”
Ia mengangguk dengan senyum lembutnya. Mungkin tersentuh oleh kesopanan Tono.
“Ibu ini ibu saya bukan?”
Senyuman itu hilang. Ia tampak bingung.
“Saya sedang mencari ibu saya. Dia meninggalkan saya waktu masih bayi. Saya tidak tahu wajahnya seperti apa.”

Semenit berlalu. Tono berharap dia mengangguk dan mendengarnya berkata, “Oh, kebetulan sekali sembilan tahun yang lalu saya membuang anak saya di dekat sini. Kamu pastilah anak itu. Ayo, Nak ikut Ibu pulang,” Tono berkhayal

Tapi perempuan itu menggeleng. “Bukan, Dik. Saya belum menikah dan belum pernah melahirkan.”

Sekali lagi dia tersenyum sebelum berbalik dan menyeberang. Lampu merah lagi.

*

Pencarian Tono rasanya tak akan pernah berujung. Hari demi hari lewat tanpa pernah menemukan ibunya itu. “Oh, Ibu di manakah dirimu berada?” Tono merintih. Rasanya begitu banyak orang yang lalu lalang setiap hari, bagaimana dia mampu menemukan wanita itu di antara mereka?

Sampai suatu hari, ketika Tono berjalan tak tentu arah, meninggalkan tempat bertugasnya sehari-hari jauh di belakang. Ia menemukan banyak lukisan yang tergantung di sepanjang jalan. Tempat para pelukis jalanan mangkal. Tono terpesona akan wajah-wajah yang dilukiskan mereka. Ada wajah-wajah yang dikenalnya. Wajah-wajah yang biasa dilihatnya di layar kaca. Begitu mirip.

Saat itulah terbit ide di kepalanya. Bila saja lukisan wajahnya bisa digantung di sana dan mungkin suatu hari nanti ketika ibunya lewat tempat itu dan mengenali kemiripan wajah mereka, wanita itu akan dapat menemukannya. Bukan lagi cuma dia yang bisa menemukan wanita itu. Itu pikiran Tono. Dia sama sekali tak pernah meragukan kalau ibunya masih menginginkannya. Dan dia masih yakin ibunya membuangnya dulu karena terpaksa.

Dia mendekati seorang lelaki tua yang tengah asyik melukis sebuah wajah yang mirip dengan foto kecil di samping kanvas.

“Pak…”
Lelaki itu menoleh dan matanya langsung menyipit ketika melihat Tono. Kulitnya hitam kasar, dengan jemarinya yang berbonggol-bonggol. Rambutnya panjang terurai berantakan, sementara sebuah kacamata dengan kaca kekuning-kuningan karena dimakan waktu, bertengger di atas hidungnya yang pesek.

“Saya mau dilukis, Pak,” kata Tono menatap lurus ke mata lelaki itu.
“Kamu punya uang gak?!”
Tono merogoh sakunya dan mengeluarkan semua uang yang dimilikinya. Sebagian uang lembaran seribuan yang lecek dan beberapa uang logam.
Lelaki tua itu menoleh. Matanya membesar.
“Edan!!! Pergi sana! Mengganggu kerjaan orang saja!”
Tono setengah terbirit, kaget akan suara lelaki itu yang menggelegar tiba-tiba. Ditinggalkannya tempat itu. Dari sana ia berjalan perlahan, masih mengamati lukisan-lukisan sepanjang jalan. Masih dengan keinginan menggebu untuk bisa memajang foto dirinya di sana. Tapi lelaki tua tadi telah mengagetkannya. Ia tak berani lagi sembarang bertanya.

Tiba di kios terakhir, langkah kaki Tono terhenti. Enggan meninggalkan tempat itu tanpa hasil. Namun dia juga tak tahu harus bagaimana. Seorang lelaki tua, berambut putih menengok ke arahnya. Lelaki itu sedang duduk menghisap sebatang rokok. Tampak menikmati setiap kepulan yang dihembuskannya. Ia menatap Tono. Tatapan Tono dari lukisan beralih ke wajah tua itu. Lelaki tua itu tersenyum. Tono tertegun. Sedetik kemudian ia balas tersenyum sementara kakinya melangkah masuk.

“Permisi, Pak,” sapanya sopan.
“Oh iya, masuk saja. Kamu cari siapa?”
Tono ragu sejenak. “Nggg…. Begini, Pak. Nama saya Tono. Saya sedang mencari Ibu saya.”
“Oh… Memangnya ibumu ke mana, Nak?”
“Saya juga tidak tahu, Pak. Kata orang-orang ibu saya ninggalin saya di pinggir rumah Mang Asep sejak saya masih bayi. Sampai sekarang ibu tidak pernah kembali.”

Lelaki tua itu berhenti menghisap rokoknya. Ia bangkit sedikit, meluruskan punggungnya tanpa berkedip sedikit pun dari wajah Tono.

Bocah itu kemudian menceritakan usahanya belakangan ini untuk menemukan ibunya. Suara kecilnya atau mungkin ekspresi wajahnya yang polos membuat lelaki yang bernama Pak Ghali itu tersentuh. Kepalanya mengangguk-angguk di antara cerita yang dituturkan Tono.

“Jadi maksud kamu mau bapak melukis wajahmu dan menggantungnya di sini?”
Tono mengangguk cepat. “Boleh, Pak?” tanyanya penuh harap. “Saya punya, tapi memang tidak banyak,” sambungnya lagi seraya merogoh sakunya kembali.
Bapak tua itu tertawa seraya bangkit dari kursinya. “Kamu yakin ibu kamu akan mengenali wajah kamu?”
Tono mengangguk cepat. “Wajah anak pasti mirip wajah ibunya. Ya kan, Pak?”
Pak Ghali mengangkat bahunya, tak mengiyakan. “Lalu, kalau sampai kamu besar nanti kamu tidak bisa menemukan Ibu kamu, bagaimana?”

“Saya akan terus mencari, Pak. Saya hanya ingin tahu bagaimana wajah ibu saya.”

Ada kesedihan dalam suara Tono. Kepala tertunduk. Pak Ghali menepuk pundaknya. “Begini saja anak muda,” katanya seraya menatap lurus ke wajah Tono. “Bagaimana kalau Bapak bantu kamu melukiskan wajah ibu kamu?”

“Bapak tahu wajah Ibu saya?”
Pak Ghali tertawa.
Tono tercengang. Jantungnya berdetak kencang. “Bapak kenal ibu saya?”
“Tentu saja tidak. Tapi kan kamu bilang wajah anak pasti mirip wajah ibunya. Berarti wajah kamu mirip wajah ibumu. Mudah untuk melukis wajah ibumu.”

Tono tertegun, masih mencoba mencerna kata-kata Pak Ghali.
“Begini saja,” kata Pak Ghali seraya menggeser sebuah bangku kecil ke arah Tono. “Kamu duduk di sini, bapak akan lukis wajah ibumu.”
Tono menurut tanpa mampu berkata-kata. Dan lelaki tua itu mengambil kuasnya dan kanvas baru. Beberapa saat kemudian ia mulai melakukan pekerjaannya. Matanya berpindah-pindah dari kanvas dan wajah Tono. Tono menahan napas, takut untuk bergerak. Dia takut merusak karya besar bapak itu. Wajah ibunya.

“Kamu mau rambut ibumu panjang atau pendek, Nak?”
Tono tersentak, terkejut akan pertanyaan itu. Panjang atau pendek? Bayangan ibunya di kepalanya adalah seorang wanita lembut berambut panjang.
“Panjang, Pak,” jawabnya pelan.
“Rambutnya terurai atau disanggul?”
Kali ini senyum di wajah Tono merekah. “Sanggul, Pak,” jawabnya riang.
Kepala si Bapak terangguk-angguk, kemudian ia kembali larut dalam pekerjaannya. Hening menyelimuti tempat itu.

Entah berapa lama kemudian, yang Tono tahu hanyalah tubuhnya mulai terasa keram karena tidak digerakkan dalam waktu lama, ketika si Bapak berdiri dan berkata, “Sudah selesai.”

Lelaki itu melambai pada Tono. “Mari sini, Nak. Lihat wajah ibumu.”
Dada Tono seakan dipukul palu berat, bertalu-talu. Ia bangkit dengan kaki yang mati rasa dan sedikit gemetar. Akhirnya, untuk pertama kalinya ia akan melihat wajah ibunya.

Tono terpaku melihat lukisan sederhana itu. Wajah wanita di kanvas benar sungguh mirip wajahnya. Hanya saja wajah itu terlihat lebih halus dan tatapan matanya begitu lembut. Wanita itu tengah tersenyum ke arahnya.

Tak sadar, airmatanya menitik.
“Jangan nangis, Nak. Nanti bapak pajang lukisan ini di luar. Setiap hari kamu bisa lewat sini, memandangi wajah ibumu kalau kamu rindu. Dan semoga kalau ibumu lewat sini, dia bisa mengenali wajahnya dan singgah untuk menanyakanmu.”

Si lelaki tua menepuk-nepuk pundak Tono.
Tono berusaha tersenyum di antara tangisnya. “Terima kasih, Pak. Terima kasih banyak…”

Dirogohnya kantong celananya dan dikeluarkannya semua uang hasil mengemis hari ini. Dia bermaksud memberikan semua uang itu pada Pak Tua yang baik hati itu. Dia tak peduli lagi bila nanti sore mesti mendapat pukulan Mang Asep. Sakit itu tak akan ada artinya dibandingkan bahagia hatinya saat ini.

Pak Ghali tertawa melihat uang yang disodorkan Tono.
“Simpan saja, Nak. Bapak mau melukis wajah ibumu karena bapak tahu sedih hatimu. Bapak ingin membantumu.”
Tono terperangah. Tak percaya ada seseorang yang tak menginginkan uang. Tak percaya ada orang yang ikhlas dalam dunia ini.
“Tapi, Pak…”
Pak Ghali mengambil lukisan yang telah jadi itu dan menggantungnya di sudut depan kios tersebut.
“Bagaimana? Kamu suka?”
Tono mengangguk cepat, seraya menyeka sisa airmatanya. Hatinya penuh dengan rasa bahagia.

“Sudah sore, pulanglah,” kata Pak Ghali seraya menepuk kedua tangannya. Tono mengangguk. Sekali lagi mengucapkan terima kasih dan sekali lagi memandangi wajah ibunya dengan senyum terlebar yang dimilikinya. Kini, ia tak perlu mencari-cari wajah ibunya di antara orang-orang yang lewat. Kini ia telah tahu wajah ibunya. Wajah Ibu yang selama ini dicari-carinya.

Angel Li, wirausaha muda tinggal di Cengkareng Jakarta Barat Pemenang Ke-1 LMCR 2009 untuk kategori C (Mahasiswa, Guru dan Umum)

Iklan
 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 9 Mei 2011 in Cerpen Indonesia

 

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: