RSS

cerpen

09 Mei

KALI GARANG

Oleh Karina Danastri Hanindita

Ungaran adalah nama sebuah gunung. Ia terletak di sebelah selatan kota Semarang, ibukota provinsi Jawa Tengah. Di kaki gunung itu ada sebuah desa bernama Genuk. Meskipun demikian,  Genuk dilintasi jalan raya  yang menghubungkan kota Semarang dengan Solo atau Yogyakarta.

Rumah orang tua ibuku terletak di tepi jalan raya, yaitu  jalan Diponegoro. Dua ratus meter saja dari RSUD Ungaran. Tak heran tempatku tinggal di desa Genuk kecamatan Ungaran kabupaten Semarang ramainya menyamai kota.

Lain halnya dengan tempat tinggal orang tua ayah, di  kampung Tirtoyoso. Orang di situ lebih suka menuliskan nama jalan yang diambil dari nama raja Ki Ageng Tirtayasa itu dengan vokal o, bukan a. Itu karena orang Jawa mengucapkan o pada Tirtoyoso seperti pada kata tokoh bukan toko. Meskipun di  Semarang, ia tergolong jalan kampung. Untuk menuju ke jalan raya dr. Cipto, di mana bus-bus Semarang – Yogya atau Semarang – Solo lewat, harus keluar menempuh jarak satu kilometer. Tempat tinggal itulah yang sering dijadikan bahan canda kedua orang tuaku. Meskipun di gunung, rumah ibu terletak di tepi jalan raya. Rumah ayah memang di kota, tapi di perkampungan.

Jalan raya rumah orangtua ibuku  sungguh ramai,  selalu macet berjam-jam pada rangkaian libur Lebaran. Di  belakang rumah mereka bernuansa  pedesaan. Lima puluh meter dari belakang rumah terdapat jalan menurun. Lebarnya hanya pas untuk jalan satu mobil. Tapi rasanya tak satu mobil pun pernah melewati jalan itu. Salah satu tepinya berupa saluran air selebar paving block melintang. Karena menurunnya cukup curam, maka air di saluran itu mengalir dengan derasnya. Beberapa puluh meter menyusuri jalan menurun, aliran air itu bertemu saluran yang lebih besar. Menyusuri sungai kecil itu, tak jauh kemudian akan bertemu dengan sungai bening berbatu-batu. Semua saluran di sekitar desa ini bertemu di sungai itu. Alirannya sangat deras karena berasal dari gunung. Tidak jarang sungai ini menghanyutkan orang. Namanya Kali Garang, sesuai dengan karakternya. Kali Garang ini mengalir sampai ke kota Semarang.

Air sungai ini menjadi sumber utama  air minum warga  Semarang, kota  yang punya julukan kota ATLAS itu. Ini juga sering jadi bahan canda ibuku. Orang Semarang, termasuk ayah, air minumnya terbuat dari air yang mengandung air seni ibu. Begitu canda ibu yang disambut senyum atau kadang tawa terbahak ayahku.

Aku bertemu dengan seorang bapak tua di pinggir sungai itu. Rambutnya putih, bercelana kolor hitam. Pak Daguk namanya. Setiap hari ia menata batu-batu di tepi sungai. Ia memunguti batu-batu dari dalam sungai, membawanya ke atas, dikelompokkan berdasarkan ukurannya. Ada sederetan tumpukan batu seukuran bola kasti, ada yang sebesar buah nangka. Tapi ada pula kelompok kerikil sebesar bola bekel.

Pak Daguk tidak bertani seperti orang-orang di desa ini. Tidak juga menggembalakan kambing atau memelihara itik. Pekerjaannya hanya merapikan batu-batu kali. Ia jarang bicara, tapi disegani penduduk sekitar Kali Garang. Ia makan dari pemberian orang. Ada saja orang yang mengirimkan makanan untuknya di pinggir sungai itu.

Ia hafal betul suhu air sungai itu. Ketika suhu air cukup hangat, itu pertanda cuaca di atas gunung sana sedang panas. Ia juga tahu hujan deras bakal turun di desa ini dari air sungai itu.

Suatu ketika pernah Pak Daguk berlari keliling desa sambil berteriak-teriak.  ”Hujan deras, hujan deras ! Banjir bandang, banjir bandang ! Awas, awas !” teriak lelaki tua itu dengan suara parau, mengenakan  celana kolor hitam kedodoran.

Penduduk desa di sekitar Kali Garang terheran-heran. Mereka,  melongokkan kepala ke luar rumah ingin tahu apa yang terjadi. Hari memang mendung. Sesekali petir menyambar. Tapi apa maksud lelaki tua itu berteriak-teriak keliling desa ?

Senja semakin gelap, matahari sudah tenggelam. Gelegar guntur memecah kesunyian. Malam itu jadi semakin gelap karena hujan turun dengan derasnya. Hanya kilat petir saja yang sesekali menerangi desa di kaki gunung Ungaran itu. Sepi. Tak ada kegiatan yang dilakukan penduduk. Mereka semua diam kedinginan di dalam rumah yang sebagian masih berlampu minyak.

Pak Daguk berdiri mematung dengan tangan bersedakep di depan sebuah gubug. Ia tak pedulikan tubuhnya basah kuyup oleh air hujan. Air matanya menetes, tapi tak ada yang melihat. Tetesan air hujan dari atap gubug itu mengalir di kepalanya lebih deras daripada air matanya.

Hujan deras sepanjang malam membuat lelaki tua yang hidup sebatang kara itu tak tidur sekejap pun. Batinnya menangis. Sampai pagi menjelang, lelaki berkolor hitam itu masih sendirian di gubug di tengah sawah. Ia menangis. Kali ini isaknya terdengar. Dari radio Pak Carik yang tak jauh dari gubug itu terdengar berita, banjir bandang hebat melanda kota Semarang. Banyak rumah terendam. Harta benda dan binatang ternak hanyut, bahkan belasan orang terbawa arus. Maka penduduk desa bertambah segan dengan Pak Daguk. Mereka menganggapnya dukun. Bahkan ada yang menjulukinya orang sakti karena tahu apa yang akan terjadi di alam ini.

Aku lewat tak menyapa Pak Daguk yang sedang menata batu-batu kali. Tapi akhirnya kuputuskan berhenti di dekatnya, mengamatinya dari jarak agak dekat. Ingin sekali aku mengajaknya bicara, namun aku takut. Wajahnya seram.

Tak jauh darinya ada sebuah batu besar. Kalau batu itu ditegakkan dan dibuatkan tempat, ia butuh ruang sebesar kamar mandiku yang berdimensi 2 m x 1,5 m x 3 m. Jadi volumenya sekitar sembilan  meter kubik. Aku  tahu dari ayahku, berat jenis mixed concrete, yaitu campuran pasir-batu-semen-air yang dipakai untuk mengecor jalan itu sebesar 2,4 ton/m3. Kalau dianggap berberat jenis sama, maka bobot batu besar itu merupakan hasil kalinya yaitu mencapai 21,6 ton. Tentu saja batu yang sebesar ini tidak termasuk yang dikumpulkan dan ditata Pak Daguk.

Kubiarkan teman-temanku bermain di sungai. Mereka sudah terbiasa di tempat ini.  Gatot yang berbadan gemuk berenang-renang di dekat batu besar itu. Boing, teman sekolahku yang lahir pada Rabo Paing itu melemparkan jauh-jauh batu kerikil yang dipungutnya dari dasar sungai yang dangkal. Dian menepuk-nepukkan telapak tangannya ke permukaan air sehingga menciptakan suara seperti kendang. Dita dan Dani memanggil-manggil namaku mengajak berbasah-basah. Aku memilih tetap di dekat Pak Daguk sambil berpura-pura mencari batu-batu kerikil. Keinginanku berbicara dengan lelaki tua itu sangat kuat.

”Boleh saya membantu mengatur batu-batu itu, Pak ?” tanyaku memberanikan diri.

Sejenak bapak tua berambut putih itu berhenti menata batu. Ia berdiri tegak menatap ke arahku dengan matanya yang tajam. Jantungku berdegup keras. Jangan-jangan ia marah besar kepadaku. Aku tak berani menatap matanya.

Ketika aku sedikit melirikkan mata ke arahnya, aku melihat senyumnya mengembang. Lalu iapun mengangguk. Seketika takutku hilang.

Aku mulai ikut menata batu-batu berukuran sedang. Maklum, anak perempuan seusia SMP sepertiku tentu tak mampu mengangkat batu-batu yang besar. Lagi pula ini sebenarnya hanyalah alasanku saja supaya aku bisa berbicara dengannya. Mulailah aku berbicara dengannya, dari hal  yang ringan-ringan dan akhirnya sampai juga pada perbincangan soal alam yang ramah yang secara tiba-tiba bisa berubah menjadi ganas.

”Di atas gunung sana banyak hutan yang digunduli. Ulah manusia serakah selalu ingin mengambil keuntungan bagi dirinya sendiri tanpa memikirkan kepentingan orang lain. Tidak sadar kalau itu membawa bencana dan merugikan orang banyak,” jelas Pak Daguk berapi-api.

Tanah yang tinggi dan miring seperti di gunung ini seharusnya banyak ditanami pohon. Bila turun hujan batang-batangnya yang perkasa akan mampu meredam derasnya aliran air. Pohon-pohon itu  berfungsi sebagai benteng penahan arus air. Selain itu,  akar-akarnya menyerap air dan menyimpannya ke dalam tanah. Maka,  tanah tidak mudah terkikis oleh air. Lapisan humus yang merupakan lapisan subur di atas permukaan tanah juga tidak terhanyut begitu saja. Maka dapatlah dimengerti bahwa pepohonan yang lebat itu akan mampu mencegah terjadinya banjir dan tanah longsor.

Aku banyak belajar dari bapak tua yang kaya akan pengalaman itu.  Aku lalu  bertanya kepada bapak bijak itu tentang apa yang bisa aku  lakukan bersama teman-temanku.  Ia  memintaku memanggil semua temanku yang sedang asyik bermain di sungai,  agar bisa  mendengarkan pengarahan Pak Daguk.

Kami semua mendengarkan  penjelasan Pak Daguk dengan penuh perhatian. Ia  sangat prihatin dan khawatir akan bencana-bencana yang mungkin saja akan semakin hebat bila kita tak melakukan apa pun untuk menjaga lingkungan kita..

Penjelasannya berapi-api. Sesekali bernada rendah dengan suara parau ketika mengungkapkan kesedihan yang mendalam. Bahkan tampak pula matanya yang berkaca-kaca ketika menyatakan keprihatinannya.  Orasinya yang ekspresif itu kurasakan tidak hanya merasuk ke dalam jiwaku, tapi juga jiwa teman-temanku.  Semangat kami dibakar. Dari dalam diri kami seakan menyembur api yang  siap melumat setiap aral yang hendak merintangi tekad kami,  memerangi keserakahan manusia egois, si tukang tebang hutan.

Bagai traktor yang bekerja di sawah yang luas aku dan teman-temanku beraksi. Mulai menghadap Pak RT, Pak RW, Pak Lurah, dan Pak Camat, membakar semangat teman-teman sekolah. Kami juga mempresentasikan proposal di hadapan kepala sekolah dan guru-guru; sampai menghadap pejabat pemerintah yang berwenang dalam masalah lingkungan hidup.

Akhirnya kami mendapatkan ribuan bibit tanaman keras, termasuk pohon buah-buahan antara lain pohon mangga. Dengan semangat tanpa mengenal lelah kami membagi-bagikannya kepada semua penduduk yang lahannya gundul. Kemudian kami menyuluh mereka agar mau nenanam bibit pohon tersebut, memeliharanya, dan mencintai lingkungan hidupnya. Mereka tampak tertular semangat kami. Usaha kami membuahkan hasil walau belum maksimal. Saat ini hampir semua penduduk di lereng gunung itu sudah sadar lingkungan.

Desa mereka menjadi desa yang lebih asri. Masyarakat menjadi lebih sejahtera dari hasil tanaman yang sebagian besar adalah tanaman buah-buahan.  Mereka bangga dengan desanya. Betapa tidak ! Desa itu menjadi desa yang subur pula. Hari ini melempar biji mangga, beberapa tempo kemudian mereka telah berhasil menambah jumlah populasi pohon mangga. Desa itu akan menjadi kaya dan semakin kaya.

Udara pagi terasa mulai hangat. Matahari meneroboskan cahayanya ke sela-sela rimbun dedaunan. Sinarnya sampai juga ke kulit tubuhku, mengirimkan rasa hangat ke sekujur badan. Sementara kaki ini terasa dingin sampai sebatas lutut sebab terendam air Kali Garang nan sejuk. Kulit telapak kakiku serasa mendapat pijatan refleksi ketika berjalan di atas dasar sungai yang berkerikil itu.

Hoiii...! Airnya keluar dan bening,” teriak seorang lelaki dari tepi sungai. Lelaki berambut putih berkolor hitam itu siapa lagi kalau bukan Pak Daguk.

Aku mengamati mereka dari kejauhan. Di sana ada Gatot, Boing, Dian, Dita, dan Dani. Tentu saja dengan bapak tua yang sudah menjadi sahabat kami itu. Mereka tampak gembira mengerumuni sebuah drum yang keran di dasarnya mengeluarkan air bening.

Aku duduk di atas batu besar dua puluh satu ton itu. Senang mengamati teman-teman mempraktekkan pembuatan sand filter. Drum bekas oli yang telah dibersihkan itu kami dapat dari ayah Gatot yang punya usaha bengkel sepeda motor. Ayah Gatot pula yang memasangkan sebuah keran di dasar drum itu. Di dalam drum diisi dengan susunan batu berbagai ukuran dari sedang sampai kecil berturut-turut dari bawah ke atas. Bagian paling atas berupa pasir dan ijuk.

Air sungai yang keruh dialirkan dari bagian atas drum,  yang kami sebut saringan pasir itu. Air akan mengalir ke bawah berdasarkan gaya gravitasi. Ia melewati ijuk dan pasir dengan meninggalkan partikel-partikel penyebab kekeruhan. Kemudian, air  akan mengalir terus melewati saringan berupa kerikil-kerikil sebesar butir biji jagung. Di bawahnya sudah menunggu susunan batu-batu seukuran bola bekel, dan seterusnya hingga akhirnya air itu keluar melalui keran yang dipasang pada dasar drum. Tentu saja air yang keluar sudah jernih.

Tidak sulit bagi kami mencari batu berbagai macam ukuran itu. Pak Daguk telah mengumpulkannya selama bertahun-tahun. Ini pula yang menjadi pemikiranku bersama teman-teman. Kami ingin membuat sand filter berukuran raksasa. Kami ingin mengolah sendiri air minum untuk masyarakat yang membutuhkan. Pak Daguk setuju dengan ide ini. Bahkan matanya  berbinar-binar  saat mendengar gagasan kami. Ia merasa berharga. Selama bertahun-tahun pekerjaan mengumpulkan dan mengelompokkan batu-batu itu dianggap aneh oleh setiap orang yang melihatnya.

Bila air sungai sangat keruh, ia terlebih dahulu harus diperlakukan dengan proses yang disebut flokulasi dan koagulasi. Air keruh itu dilewatkan bak panjang yang bersekat-sekat untuk memberi kesempatan lumpur dan pasir mengendap sendiri berdasarkan gaya berat. Lalu ke dalam air itu ditambahkan flokulan berupa larutan tawas. Fungsinya menangkap partikel-partikel koloid yang tidak bisa mengendap dengan sendirinya pada proses sebelumnya.

Partikel lumpur akan menjadi semakin besar dan berat. Bila sudah cukup berat,  partikel akan mengendap. Secara berkala endapan itu dikeluarkan melalui keran yang dipasang di dasar bak flokulasi. Air yang sudah lebih jernih disaring  sand filter. Untuk mensterilkan air yang sudah jernih, dilakukan proses desinfeksi dengan menambahkan larutan kaporit pada dosis tertentu, agar memenuhi syarat sebagai air minum.

Boing  memikirkan cara agar air bersih itu dapat  didistribusikan ke desa-desa yang lokasinya lebih tinggi. Kami akan membuat pompa yang mampu mengalirkan air bersih ini tanpa menggunakan energi listrik. Kami akan memanfaatkan aliran sungai sebagai sumber tenaga. Aliran sungai bisa menggerakkan kincir. Nah, kincir itulah yang  menggerakkan piston pompa sehingga mampu memompa air ke daerah tinggi sekalipun.

Semilir angin mengurai rambutku. Desirnya terdengar syahdu. Rumpun bambu di sampingku merunduk-rundukkan batangnya yang lentur. Daun-daunnya melambai ramah. Gemercik aliran air Kali Garang menciptakan aransemen tersendiri atas orkestra alam ini, ditingkah suara gesekan batang-batang pohon bambu. Di atas dahan pohon lamtoro sepasang burung berkicau merdu. Tak lama kemudian terbang bergabung kawanan burung sejenisnya untuk mencari tempat bertengger,  buat menyanyikan lagi kicauannya.

Alam ini terasa ramah, ketika hati kita pun ramah padanya. Ia mampu membaca hati kita. Ketika hati kita dipenuhi dengan keserakahan, kemalasan, dan ketidaksucian, ia garang. Saat hati kita bersih dan penuh cinta kepadanya dan memikirkan sesama, ia ada di pihak kita. Terkadang kita harus memperlakukan alam ini bak makhluk yang bernyawa. Itulah yang aku dapatkan dari lelaki renta nan bijak yang mencintai alam itu.

Matahari mulai tinggi. Panasnya menyengat punggungku. Aku turun ke air yang sejuk, berjalan menuju sekelompok manusia yang sedang optimis itu. Aku mencintai teman-temanku yang selalu bersemangat. Aku pun mencintai Kali Garangku. Aku ingin lebih mencintai alam ini seperti Pak Daguk yang selalu bergaul akrab dengan alam. Dari alam kita memperoleh kehidupan. Oleh alam pula kita bisa mendapat bencana. Wahai manusia, bekerja samalah dengan alam ini untuk meraih kesejahteraan.

Hingga sore hari kami masih berada di  sungai itu. Sungguh mengasyikkan,  memperbincangkan  berbagai program yang akan kami lakukan selanjutnya,  di atas aliran Kali Garang. Tanpa terasa matahari sudah hampir tenggelam. Kami pun lelah. Tak seperti arus air Kali Garang ini yang terus mengalir tanpa lelah melintasi beberapa desa hingga menuju kota Semarang. Ia terus mengalirkan kesejukan dan kehidupan hingga akhirnya mencapai muara untuk bergabung dengan laut lepas.*

Karina Danastri Hadindita, Siswi SMPK Stella Maris Surabaya

Iklan
 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 9 Mei 2011 in Cerpen Indonesia

 

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: